Resensi Buku: Keresahan yang Dibukukan

Identitas Buku




Judul Novel                : Selamat Tinggal

Pengarang                  : Tere Liye

Penerbit                      : -

Tahun Terbit               : 7 Mei 2020

Tebal Halaman           : 503 halaman

Harga                           : Rp 56.250,00

Sinopsis Novel


            Ini adalah kisah tentang kehidupan, tentang idealis yang dipertaruhkan, tentang cinta yang belum dipersatukan, tentang kita yang mungkin masih suka bajakan. Buku ini merangkum keresahan yang selama ini tertuang dalam ulasan-ulasan singkat, buku ini adalah kisah perjalanan Sintong Tinggal.


Keresahan yang Dibukukan


            Menjadi seorang penulis tidak saja bertanggungjawab untuk memberikan tulisan yang menjual, meski tak bisa dipungkiri bahwa para penulis juga adalah bagian dari masyarakat yang mempunyai keluarga, bahkan jika tidak, dia punya dirinya sendiri untuk dinafkahi. Sayangnya hal ini kadang terlupa oleh kita para penggemar barang murah, yang lebih memilih untuk menghemat uang dengan membeli barang bajakan.

            Berbicara tentang pembajakan seperti berbicara lingkaran hitam, terlalu suram untuk ditelusuri, atau seperti benang kusut, sulit sekali untuk mengurainya. Disadari atau tidak barang bajakan sering kali kita temui, menjadi suatu hal yang lumrah dan seolah mendapat legalisasinya sendiri. Namun disini kita sedang tidak membahas tentang semua barang bajakan yang ada, terlalu besar dan pengetahuan saya terlalu dangkal untuk mengupasnya lebih jauh.

            Menjawab keresahan akan banyaknya bajakan yang diperjualbelikan membuat salah seorang penulis bernama "TERE LIYE" merangkai kata demi kata dalam sebuah novel yang berjudul "Selamat Tinggal" novel remaja yang telah terbit versi ebook di Play Store ini mampu membuat saya mengkonfirmasi segala bentuk pencurian yang telah dengan sadar saya lakukan dengan bantuan internet di genggaman. Novel ini tidak bersinopsis, juga tidak berkata pengantar, tapi paragraf demi paragrafnya membuat kita enggan beralih dari memandangi rangkaian huruf demi huruf yang tersusun rapi begitu cantik di mata.

            Dalam buku ini Tere benar-benar menuangkan segala keresahannya tentang pembajakan yang telah mendarah daging di masyarakat, mengangkat kisah tentang Sintong Tinggal seorang pemuda dari Pulau Sumatra, satu-satunya siswa di sekolahnya yang beruntung diterima di salah satu kampus ternama di Ibu Kota. Keterbatasan biaya membuat  Sintong dititipkan sang Ibu pada salah seorang saudara yang tinggal di sana. Disitulah kisah Sintong dimulai.

            Sesampainya di Ibu Kota terjadi kesepakatan antara Sintong dan Pakliknya, dimana biaya kuliah, uang kosan serta uang bulanan Sintong akan dipenuhi oleh si paman. Sedang sebagai gantinya Sintong akan menjaga toko buku milik pamanya yang terletak tidak jauh dari kampus. Deal, kesepakatan dibuat, Sintong kini telah resmi menjadi mahasiswa pun bekerja sebagai penjaga toko buku.

            Sintong Tinggal menjalani tahun pertama dengan gemilang, rupanya dia adalah seorang yang berotak cemerlang, dia aktif mengikuti kegiatan kampus dan yang paling membanggakan dari seorang Sintong adalah karya tulisnya yang mampu membuat seisi kampus berdecak kagum, bahkan para dosen memuja-muja tulisannya yang tak jarang menghiasi koran-koran nasional. Tapi begitulah anak muda, semangatnya membara tak terkira apalagi dengan cinta yang sedang bertamu menyapa. Namun, begitulah pula anak muda, akan hilang semangatnya karena cinta yang dia rasa, nyatanya tak memberinya bahagia, malah menancap duri tak kasat mata, menikam membuat terluka tapi tak berdarah. Masa emas Sintong redup, tulisannya mandek, berhenti tanpa aba-aba.

            Namun, Sintong tetaplah Sintong, dia adalah penulis yang punya prinsip, dan hatinya jelas terluka, dia mencintai literasi tapi dia jugalah yang menodai karya-karya literasi anak bangsa, dia pencinta literasi tapi dia juga penjaga toko bajakan. Menjual hasil curian, karya dari penulis-penulis yang sudah lelah berminggu-minggu menghasilkan sebuah tulisan yang dikemudian hari semakin meningkat penjual bajakannya.

            Begitulah kisah Sintong, emosinya dijungkirbalikan dengan tega oleh penulisnya sendiri, keterbalikan yang memberikan pemahaman, cerita yang menegangkan juga menyenangkan sekaligus penyampaian pesan paling halus yang pernah dirasakan dimana sang penulis mengisahkan hal itu tanpa kiasan, menyindir tegas semua pihak tanpa memihak, menampar pembaca tanpa bertatap muka, menggugah hati yang masih punya rasa, membangkitkan semangat untuk tak takut bersuara meski tak didengar seketika. 

            Novel ini adalah novel yang belum direvisi, bisa dikatakan dia masih sebuah cerita utuh tanpa proses editing, sehingga jika ditemukan kesalahan kalimat, kesalahan kata, ataupun kesalahan PUEBI harusnya bisa dimaklumi. Selain itu dalam buku ini juga terdapat beberapa halaman yang sengaja dipakai untuk kampanye anti buku bajakan yang sedikit mengganggu saat membaca, namun saya rasa hal ini menjadi poin pendukung tersendiri, yang lebih menegaskan tentang betapa pentingnya membaca buku yang bukan bajakan yang menjadi topik utama dalam novel ini. Selain itu karena versi unedited maka novel ini hanya bisa ditemukan di Google Play Store dan dibaca menggunakan Google Play Book.


Biodata Narasi


            Rezki RH, seo yang saat ini  perantauan sedang menikmati hidup di kota karnaval dengan Jember Fashion Carnaval (JFC). Dia bisa ditemu dari via instagram @rezki_reraha. terakhir dia ingin mengucapkan selamat membaca dan selamat berbahagia semua.

Share:

Post a Comment

Design Prokreatif | Instagram Ruang_Nulis